Jumat, 12 Mei 2023

Zona 2 Hari 3 Komunikasi Produktif : Fokus Pada Solusi

 Hari ini cukup melelahkan. Ada tukang di rumah menguras pikiran dan tenaga. Belum lagi aku ada jadwal berkunjung ke sekolah anakku yang pertama. 


Kelelahan fisik dan emosi membuat aku berkomunikasi dengan buruk pada anak anak. Ketika mereka melakukan hal yang bising sedikit saja, aku langsung bereaksi. Beberapa reaksi masih bisa dikendalikan. Tapi ada juga beberapa yang sama sekali belum produktif. 


Aku sepertinya banyak fokus pada masalah saat bicara pada si sulung. Banyak mengungkit kesalahan ia yang sudah terjadi di masa lalu. 


"Abang, makanya jangan dibiasakan begitu sama adik, jadi terbawa kebiasaannya ke sekolah." 


"Abang, lain bajunya selalu ngga digantung kalau sedang ganti." 


"Abang, piring kotornya jangan di biarkan terus, nanti kebiasaan." 


Dan banyak lagi perkataan aku yang sangat tidak produktif. 


Maka tadi malam aku coba latihan poin komunikasi fokus pada solusi.


 "Abang, supaya bisa rukun samaa adik, apa yang harus dilakukan ya?" 


Aku juga latihan banyak mengapresiasi kebaikan yang terlihat dari si sulung. Agar ia tahu bahwa hal baik yang dilakukan akan membuat sekeliling bahagia. 


"Terimakasih sudah mengambilkan adik minum."


"Barakallah Abang sudah murojaah hari ini." 


"Alhamdulillah, berhasil duduk anteng saat murojaah dan tilawah tadi." 


Menurutku, apa yang aku latih hari ini masih belum baik. Aku harus banyak latihan lagi dalam berkomunikasi dengan anakku yang sedang dalam masa tamyiz ini. 


Bismillah semoga dimudahkan. 

Kamis, 11 Mei 2023

Zona 2 Hari 2 Memberikan Pilihan

 Catatan Hari ke 2 Zona 2

Komunikasi Produktif


Putra sulungku saat ini sudah memasuki masa tamyiz. Kami sedang melatih ia untuk melaksanakan shalat 5 waktu. Kadang ia bersemangat shalat di masjid di waktu Maghrib dan Isya. Namun, saat ashar ia seringkali masih lelah habis sekolah dan masih ingin main.

Hari ini, ia belum shalat ashar, padahal sudah hampir jam 16.30. Aku mencoba memberi instruksi yang jelas menggunakan kaidah KISS (Keep it short and simple).

"Abang, ayo segera shalat ashar."

Namun ia masih sibuk dengan aktivitasnya. Alih alih shalat ia# malah menyeduh teh manis karena kehausan.

Aku mengganti strategi #komunikasi.

"Abang, mau shalat ashar berapa menit lagi?"

Ia pun menjawab, "5 menit lagi Umi kalau tehku sudah habis."

"Laksanakan ya Bang, waktu ashar hampir habis."

Akhirnya, saat tehnya habis, ia pun bergegas shalat.

Sebelum belajar komunikasi produktif aku selalu senewen kalau saat adzan ia tak segera ke masjid. Tapi aku berkaca, aku saat seusianya dulu juga begitu. Mumpung masih tahap latihan, biarlah ia berproses dulu, pikirku.

Dulu aku sering menyindir kalau ia belum shalat. "Abang kok ngga ke masjid?", "Abang denger azan ngga sih?", "Abang kenapa masih di rumah?", "Abang, itu temennya udah pada ke masjid lho." Dan semua perkataan itu tidak spesifik ternyata jadi tidak bisa menggerakkan ia untuk ke masjid.

Dengan mengganti kalimat perintah menjadi pilihan, ternyata anak menjadi punya ruang untuk bisa mengambil keputusan tanpa terkekang oleh perintah.

Jadi, aku akan terus melatih komunikasi ini pada anak anak agar pesan yang kusampaikan bisa dipahami anak anak.

Rabu, 10 Mei 2023

Zona 2 Hari 1 Komunikasi Produktif : Menjaga Kontak Mata

 Hari ini aku dan suami menuju ke rumah sakit untuk memenuhi jadwal periksa kandungan rutin. Sesampainya di rumah sakit, antrianku masih menunggu 3 orang lagi. Aku dan suami pun menunggu di salah satu sofa sambil melakukan aktivitas masing-masing. 


Suami sesekali melakukan telpon dengan rekan kerjanya, karena dia cuti. Aku membaca novel via tab. Tiba tiba terdengar namaku dipanggil. Aku kaget karena giliranku masih jauh. Ruangan dokter kandungan pun masih terisi pasien. Oh, ternyata yang memanggil adalah bidan jaga di yang biasa disebut PMO. 

Aku dan suami bergegas menuju bidan tersebut. Ia menanyakan tentang rencana persalinanku. Aku jawab aku akan melahirkan di bidan. Lalu ia bertanya mengapa tidak di rumah sakit, mengingat kehamilanku adalah kehamilan resiko tinggi dan aku pun tidak memiliki kendala dengan biaya karena ada asuransi. Bidan juga memaparkan sejumlah resiko jika aku memilih melahirkan di bidan.

Setelah panjang lebar menyimak saran bidan, aku hanya tersenyum, lalu berpandangan dengan suamiku lalu menjawab bidan dengan kata-kata singkat, "baik, akan saya diskusikan dulu dengan suami ya Bu, nanti kami kabari lagi". Bidan pun menerima dan kami mengakhiri sesi pembicaraan itu.

Aku dan suami kembali ke tempat duduk kami. Baiklah, ini adalah momen yang tepat untuk berlatih komunikasi produktif yang baru saja aku dapatkan tadi. 

"Aku tidak nyaman dengan ucapan bidan tadi. " Ucapku singkat. 

"Kalau ada pasangan lain yang belum belajar, lalu ditakut takuti dengan segala resiko, Mereka pasti langsung down." Lanjutku. 

Tadinya aku mau menjaga kalimatku agar singkat singkat saja, tapi ternyata aku tak sabar menumpahkan unek-unekku pada suami, jadi aku mengandalkan kontak mata dalam komunikasi ini.

Suami menjawab, "Ya, kenapa mereka lebih memaparkan segala resiko?" 

"Iya, dan itu membuat aku merasa terpojok dan tertekan. Jleb sekali di hati." Ucapku

Suami melanjutkan, seharusnya mereka lebih menwarkan benefit jika melahirkan di RS, bukan menakuti seperti itu."

"Itulah mengapa aku tadi bilang akan diskusi dulu sama Abi. Nanti kalau ditanya lagi kenapa kita tidak reservasi di RS, aku akan jawab kami berencana akan melahirkan di tempat orangtua ya. Bagaimana?" Aku masih menjaga kontak mata, melihat bagaimana reaksi suami. 

"Iya, sebaiknya jawab begitu saja." 

Kami pun bersepakat dengan jawaban kami,jika nanti bidan menanyakan kembali hasil keputusan kami. Dari momen ini, aku belajar untuk mengutarakan perasaanku pada suami. Bahwa aku tidak nyaman diperlakukan begitu. Aku mengajukan solusi dan meminta persetujuan suami dengan menjaga kontak mata agar aku bisa melihat bagaimana respon dan gesture suami. 

Alhamdulillah, latihan komunikasi produktif antara aku dan suami berhasil kami lakukan. Berlatih menjaga kontak mata saat berkomunikasi membuat aku juga harus menyiapkan mental karena tak jarang suami berkomunikasi sambil memandang ke gagdetnya. Ya, itu bisa aku pahami karena dari buku yang kubaca, tatapan pria itu saat berbicara tidak akan lama. 

Besok aku akan berlatih poin komunikasi selanjutnya. Dengan belajar komunikasi produktif ini, Alhamdulillah aku perlahan bisa mengubah pola pola komunikasi ku yang sebelumnya keliru. Selamat berlatih untuk hari esok. Semoga dimudahkan.