Tampilkan postingan dengan label Go Green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Go Green. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Oktober 2023

Sabun Dari Minyak Bekas

Sudah sejak lama aku merasa resah dengan timbunan bekas minyak yang aku kumpulkan sejak dua tahun lalu. Sebelumnya aku berniat untuk menjual minyak tersebut pada pengepul minyak. Mereka memberi harga 6000 perliter. Namun, untuk mengumpulkan 1 liter minyak sisa saja aku membutuhkan waktu yang lama karena aku jarang memasak dengan minyak yang banyak. 

Oleh karena itu, aku mengurungkan niat untuk menjualnya. Hingga kini, aku memiliki 1 dirijen minyak yang masih belum sempat aku olah. Akhirnya suatu hari aku mendapat info ada pelatihan pemanfaatan minyak bekas di Rumah Keluarga Indonesia Tajurhalang. Aku belum berkesempatan hadir. Namun, ada temanku sebagai perwakilan dari desaku yang bisa mengikuti pelatihannya.

Akhirnya aku berencana mengambil ilmu dari pelatihan yang sudah diikuti temanku. Di hari Senin aku menghubunginya dan merencanakan semuanya untuk hari Selasa. Alhamdulillah, temanku bersedia dan terlaksanalah pelatihan pemanfaatan minyak bekas menjadi sabun untuk keperluan mencuci sehari hari. 


Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat sabun minyak bekas ini cukup mudah untuk ditemukan. Bisa juga memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah. Syaratnya, barang tersebut sudah tidak boleh digunakan kembali untuk keperluan lain. Khusus untuk pembuatan sabun saja. 

Alat yang disiapkan adalah gelas ukur, teko, wadah plastik, pengocok telur, timbangan, sarung tangan, masker, kacamata, kardus, serta cetakan agar-agar. Sementara itu bahan yang dipakai adalah minyak bekas, bleaching earth, soda api, pewarna dan pewangi.

Cara pengolahan minyak ini tergolong sederhana. Hanya saja butuh kehati-hatian dalam pelaksanaannya. Terutama ketika mencampurkan soda api kedalam air. Pertama-tama kita butuh memproses minyak bekas agar terbebas dari kotoran dan warnanya lebih jernih. Proses ini dilakukan dengan menggunakan bantuan arang atau bisa juga dengan bleaching earth.

Selanjutkan proses pencampuran antara minyak, ditambahkan pewarna, lalu dikocok, ditambahkan pewangi, lalu dikocok lagi, baru ditambahkan larutan soda api dan dikocok lagi hingga konsistensinya mengental. Setelah mengental barulah di tuangkan ke dalam cetakan sabun. 

Setelah dicetak, sabun harus dibiarkan selama minimal dua pekan. Ini dinamakan masa curing. Manfaatnya adalah untuk menghilangkan efek dari soda apinya agar taman digunakan untuk pencucian sehari-hari. 

Sabun ini jika sudah jadi bisa digunakan untuk mencuci barang seperti kerah baju, kaos kaki, lap, noda membandel yang biasanya sulit dibersihkan oleh deterjen pasaran. Beberapa orang yang sudah mencoba sabun ini memberi testimoni bahwa mereka merasa lebih mudah saat mencuci karena pakainnya jadi lebih cepat bersih dari noda.

Sabun berbahan dasar minyak bekas ini adalah salah satu solusi ramah lingkungan dan bisa jadi bernilai ekonomis jika kita mampu mengemasnya dengan baik. Di beberapa daerah banyak ibu-ibu yang sudah memproduksi sabun ini dan dijual ke tetangga sekitar sehingga mereka bisa merasakan kemandirian dari segi ekonomi dengan berbahan minyak bekas ini.






Jumat, 25 Februari 2011

Bersahabat Dengan Sampah

Apa yang terbayang di pikiran kita jika mendengar kata sampah?

Mungkin ada yang membayangkannya sebagai tumpukan penuh lalat yang ada di TPS.

Atau juga sesuatu yang sudah tidak berguna dan harus dibuang atau dibakar.

Bahkan, ada juga yang menganggapnya sebagai sumber pembawa penyakit.

Eit, benarkah demikian?
Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tergantung penanganannya. Sebagian sampah memang kebanyakan berakhir tragis di Tempat Pembuangan Sampah. Selain dibakar sampah biasanya dikumpulkan di depan rumah untuk kemudian dikumpulkan kepada petugas pembersih sampah. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik bisa berdampak buruk bagi kesehatan kita.

Tapi ada juga lho sampah yang masih bisa dijadikan benda yang bermanfaat. Sampah ini biasanya berupa sampah kaleng bekas atau kertas bekas. Jika sampah kaleng dibuang begitu saja, tidak terbayang seperti apa tumpukannya di TPS nanti. Oleh karena itu, kita harus menyiasati agar bisa memanfaatkan kembali sampah kaleng ini agar tak berakhir begitu saja di TPS. Apalagi sampah kaleng adalah salah satu sampah yang cukup sulit diuraikan. Jika dibiarkan begitu saja pasti akan mengganggu keseimbangan alam kita yang semakin sakit ini.

Cara penanganan sampah kaleng ini mudah saja. Tinggal sediakan kaleng bekas apa saja. Bisa kaleng susu, kaleng bekas minuman, kaleng makanan,, apapun jenis kaleng bisa dimanfaatkan. Hal pertama yang harus dilakukan, kita bersihkan terlebih dahulu sisa-sisa makanan yang ada di dasar kaleng. Jangan sampai ada yang tersisa karena nanti akan menyebabkan kaleng cepat berkarat. Lalu sediakan bahan pelapis bagian luar dan dalam kaleng. Kita bisa gunakan apa saja. Sesuai kreasi kita. Bisa kertas bermotif, kain bekas, atau kain flanel. Saya sendiri lebih sering menggunakan kertas bermotif untuk melapisinya.

Selanjutnya dengan sedikit usaha dan kreativitas kita telah bisa memanfaatkan kaleng bekas menjadi tempat yang bermanfaat.
voila!








Nah, dengan begini kita bisa sedikit mengurangi sampah di sekitar lingkungan kita. Dan bisa memiliki tempat serbaguna tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Bayangkan, kalau kta sengaja ingin membeli pencil case di toko alat tulis, pasti minimal kita harus mengeluarkan uang lima ribu rupiah. Tapi kalau kita mau sedikita kreatif dengan peduli lingkungan sekitar, kita bisa mendapat banyak keuntungan. Selain menghemat uang, juga bisa menjaga lingkungan. Bahkan, kalau ditindaklanjuti bisa juga dijadikan peluang bisnis. ^.^

Jadi, untuk teman-teman yang masih punya ade di rumah yang suka minum susu kalengan, jangan dibuang bekasnya. Ayo kita berkreasi, supaya sampah di bumi ini semakin berkurang. Ajak juga teman dan adik-adik yang lain supaya lebih banyak orang yang cinta lingkungan dengan memanfaatkan sampah yang masih bisa terpakai.

Lets Go Green...!!!!


Semoga bermanfaat





Wassalam,
Acelya Kencana Puri