Selasa, 10 Oktober 2023

Jurnal Bunda Sayang Hari Ke-2

Ini adalah hari kedua anak anak sakit. Pagi hari saat bangun, kepalaku sudah penuh dengan rencana aktivitas yang akan aku lakukan sepanjang hari ini. Namun, dengan kondisi anak-anak sakit, aku menyerahkan semua rencanaku pada Allah. Laa Haula wa laa quwwata illaa billah.


Ada agenda di pagi ini yang tak bisa aku batalkan karena menyangkut pertemuan dengan banyak orang. Sementara itu, aku juga memikirkan bagaimana kondisi anak-anak jika aku tinggalkan selama dua jam. Akhirnya aku pun mencoba berkomunikasi dengan suami. Aku memilih waktu yang tepat untuk membujuk beliau agar bersedia cuti dan menemani kedua anak yang sedang sakit. Sementara itu, aku dan satu anak bungsuku akan minta izin untuk tetap melakukan aktivitas di luar.


Aku sebisa mungkin memaparkan alasan mengapa suamiku sebaiknya cuti. Aku ingin membatasi interaksi anak bayi dengan kakak-kakaknya yang sedang sakit. Jadi aku butuh bantuan suami agar bisa melaksanakannya. 


Alhamdulillah , suami bersedia berkorban dan beliau langsung minta izin cuti. Sepanjang hari anak anak yang sakit tenang bersama ayahnya. Sementara aku bisa fokus melaksanakan aktivitas hari itu dan membersamai anak yang sehat. 


Alhamdulillah semua agenda hari ini Allah mudahkan untuk bisa terlaksana dengan baik. Utamanya bantuan suami hari ini sangat membuat aku fokus dalam beraktivitas. Progres kesembuhan anak-anak pun sangat baik. Mungkin mereka bahagia karena bisa sepanjang waktu bersama ayahnya. Jadi hal itu mendorong mereka lebih cepat pulih dibandingkan hari kemarin. 


Alhamdulillah, ilmu komunikasi yang diajarkan di bunda sayang amat sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi selalu menjadi kunci penting dalam berinteraksi. Jika interaksi baik maka akan melahirkan kebahagiaan dan membuat hari-hari lebih mudah dilalui. 


Terimakasih Allah, Alhamdulillah hari ini terlewati dengan bahagia.

Senin, 09 Oktober 2023

Jurnal Bunda Sayang Hari Ke-1

Qodarullah, anak anakku hari ini sakit semua. Di mulai dari anak pertama yang demam sejak hari Sabtu. Hari Seninnya anak keduaku juga sakit. Dan belakangan aku menyadari bahwa anak ketiga yang masih bayi pun ternyata ikut tertular kakaknya. Ia meler. 


Alhasil hari ini sulung tidak berangkat ke sekolah, karena harus istirahat dan pemulihan. Pada saat saat begini, anak-anak biasanya sulit sekali untuk makan karena tidak nafsu dan mulutnya terasa pahit. Aku pun mencoba segala cara untuk membujuk mereka agar tetap masuk makanan dan minuman. Beberapa menu sudah aku siapkan. Semua kesukaan mereka. Namun mereka belum juga mau menyentuh makanan atau minuman. Mereka hanya ingin tiduran saja sepanjang hari. 


Akhirnya saya melakukan salah satu tips komunikasi produktif agar anak anak mau memasukkan makanan. "Kaka mau makan sekarang atau 5 menit lagi? Makan dan minum walau sedikit ya Kak supaya ngga dehidrasi."


Akhirnya Kakak pun memilih mau makan 5 menit lagi dan aku pun langsung menyiapkan makanan dan minuman. Aku berharap Kakak makan lebih dari 3 suap kali ini. 


Saat makan pun tiba. Sambil Kakak makan, aku menyimak curhatan Kakak, mulai dari perutnya yang terasa mual, lidah pahit, dan beberapa kali ke kamar mandi karena diare. Aku mencoba menghibur. Insya Allah akan segera sembuh, yang terpenting jaga asupan makan dan minum agar tubuh semakin fit.


Semoga Allah kuatkan kami selalu untuk bisa melalui salah satu episode kehidupan ini. 


Jumat, 14 Juli 2023

Kembali Bebas



Tata dan Ibra pasangan yang baru saja menikahkan anak bungsu mereka. Setelah pernikahan usai, tiba-tiba Tata mengajukan usulan pada Ibra agar mereka bercerai saja. Tata ingin bebas katanya. Sementara Ibra, teramat kaget dengan usulan Tata. Ia meminta maaf namun keputusan Tata sudah bulat. Bahkan tata sudah memutuskan untuk tinggal sendiri di sebuah kontrakan di kawasan Depok. Ia ingin membuat jarak dengan Ibra dan fokus melukis untuk pamerannya. Apa yang membuat Tata ingin berpisah dan bagaimana cara Ibra mempertahankan Tata? Kisah mereka sungguh membuat aku hanyut berderai air mata. 


Ini buku termenyayat hati yang aku baca setelah Penaka. Baca buku ini bikin aku menangis di setiap lembarannya karena ikut merasakan beban yang dirasakan Tata selama 29 tahun berumah tangga. 


Aku suka ide cerita nya. Banyak sekali pelajaran tentang pernikahan, terutama tentang komunikasi, saling pengertian, seni memahami pasangan, memberi ruang pada pasangan, apresiasi pada pasangan, ah aku jadi berefleksi pada pernikahanku sendiri saat baca buku ini. Relate banget pokoknya. 


Kurangnya, tokoh utama yakni Ibra digambarkan sudah berusia hampir 60 tahun dan punya cucu. Tapi vibesnya saat kubaca seperti masih berusia 30 tahunan. 


Salah satunya alasannya karena karakter ini digambarkan senang main games. Aku jadi berpikir apakah iya kalau sudah punya cucu masih akan bertahan ya kebiasaan main gamenya? Apalagi yang dimainkan sepertinya game kekinian. 


Tapi terlepas dari itu. Karakter Ibra mewakili kondisi nyata di rumah tangga. Banyak suami yang sibuk main game dan gamenya ini menyita waktu hingga tak sempat memperhatikan keluarga. 


Buku ini cocok dibaca baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah. Di dalamnya kita bisa belajar tentang realita kehidupan pernikahan. Aku sendiri belajar bahwa butuh usaha yang keras untuk bisa menjalankan pernikahan yang sehat dan bahagia agar bisa bertahan penuh cinta dalam waktu yang lama. 


♥️Kembali Bebas | Sasa Ahadiah | Gramedia | 2023 ♥️